The British music press (notably NME and Melody Maker) called this genre “shoegazing” because the musicians in these bands often maintained a motionless performing style, standing on stage and staring at the floor while playing their instruments; hence, the idea that they were gazing at their shoes.[1] The shoegazing sound featured extensive use of guitar effects, and indistinguishable vocal melodies that blended into the creative noise of the guitars. Few shoegazers were dynamic performers or interesting interviewees, which prevented them from breaking through into markets in the United States.
Shoegazing mendominasi pertunjukan malam itu di Republic,,dan ach…saia belum bisa menikmati musik itu,,bahkan ketika band dari Bandung,Polyester Embassy tampil di depan penonton-yang meski tidak padat-namun saia yakin mrk sangat menanti-nantinya-..lagi-2 saia blm bisa menikmati jenis musiknya..Begitu juga saat penampilan Homogenic di penghujung acara.
Namun ke-tidakmenikmati-nya saia ternyata tidak sebanding dg kekecewaan teman-teman saia dan para penonton terkasih di sana. Mrk kurang dipuaskan dg acara bikinan Forum Musik Fisipol UGM itu. Dan tentu saja, jgn lupakan mba’MC yg ehm.. notabene sungguh garing…
Come On, next time better!
Categories:
Tags: Gig report